ibu-anak

Ibu

7/11-2016 ( 15.14-

Ibu, sebutan yang mulia dan lazim di Indonesia. Sebutan untuk ibu di Indonesia sangat beragam, dari mama, bunda, mami, bia, mumu, mimi, ummi, memo,umma, emak, bahkan ibu sendiri. Di beberapa negara sebutan untuk seorang ibu pun berbeda.http://darmawan.my.id/2008/12/21/panggilan-ibu-dalam-34-bahasa/

Tak jarang beberapa orang menganalisa arti dari panggilan yang berbeda-beda. Dilihat dari segi psikologis atau pun segi kultural dan lingkungan tempat tinggal orang-orang yang punya panggilan berbeda.

Semua sebutan yang beragam itu bermaksud membuat seorang ibu itu menjadi orang yang sangat spesial dalam kehidupan kita. Kenapa spesial? hmh jawabannya pasti sudah tahu yah, karena ibu yang mengandung kita selama 9 bulan, tentunya kita juga ada karena peran ayah dan Tuhan yang mengijinkan keberadaan kita di dunia.

Bagaimana dengan seorang ibu yang hanya mengandung dan melahirkan, sementara pengasuhan anak diserahkan pada neneknya?

Kadang dalam pernikahan yang sudah 6 bulan 21 hari ini, masih suka galau. Udah cocok belum yah jadi Ibu? Udah siap belum yah aku? Bagaimana anak aku kelak melihat siapa aku? Bagaimana jika aku gak bisa memberikan pendidikan dan finansial yang terbaik untuk anak-anakku kelak? Ya… fase ini sedang aku hadapi. Fase yang sama waktu mau menikah. Kalau kata teman-temanku, ” gak usah dipikir, jalanin aja, ntar juga ketemu semua jawaban dari pertanyaan lo”.

Punya keturunan dalam pernikahan itu pasti dambaan semua orang yang sudah menikah. Bahkan yang belum menikah pun sudah berangan-angan ketemu pangeran terus punya anak-anak yang soleh dan soleha, yang cantik dan ganteng. Aku juga gitu. Tapi beberapa hari ini lihat banyak pemberitaan, cerita orang-orang di sekitar. Beberapa kasus yang aku lihat di depan mata, bagaimana seorang ibu kepada anaknya. Membuat aku sedikit berpikir.

“Kok ada yah, yang bisa menistakan, lepas tangan dari tidak membiayai dan mendidik anaknya, lebih memberikan hak pendidikan dan pengasuhan pada pihak lain, hati nuraninya dimana ya?”

Binatang saja, mempersiapkan anak mereka sampai siap bertempur di alam mencari makanan sendiri sampai akhirnya di lepas ke alam bebas.

Hmh….

Dunia memang bermacam-macam rupa orangnya. Dari yang ingin punya momongan tapi belum di kasih. Ada yang di kasih momongan di sia-siakan. Ada ibu miskin yang rela banting tulang untuk kesejahteraan anaknya, bahkan bekerja pun di ajak, seperti gambar yang aku pasang di judul. Ada ibuu-ibu kaya yang lebih mementingkan gagdet dan arisan serta sosialita. Ada yang karena sakit hati dengan ayahnya kemudian memberikan anaknya pada pengasuhan neneknya. Ada yang membuang anaknya begitu saja.

Hmh…….

Terimakasih ya Allah, aku di lahirkan dari bunda yang penuh kasih sayang. Dari bunda yang mengajarkanku berdo’a sebelum mengerjakan apapun. Bunda yang selalu ada di detiap susah dan bahagia. Bunda yang selalu punya solusi dalam setiap permasalahanku. Bunda yang selalu merangkulku, menjelaskan aku salah atau benar dengan caranya yang mempesonaku. Senyumnya selalu mencairkan semua problem yang pernah mampir di hidupku. Pelukannya membuatku damai, walaupun badannya lebih kecil dari aku. Seakan bunda mau bilang lewat tatapan matanya, sekeras apapun kehidupan diluar, seberat apapun masalahmu nak, ada bunda di sini.

Bunda gak pernah kasih tahu sulitnya bunda membiayai pendidikanku, keinginan-keinginanku dan adikku. Bunda selalu pasang badan di depan kalau anak-anaknya sedang  dirundung sedih dan masalah. Maaf yah bunda kadang anak-anakmu ini suka berdebat di depanmu, tanpa mengabaikan perasaanmu.

Air mata tak jarang menitik, jika engkau tahu ada masalah dalam kehidupan anak-anakmu. Tapi dengan senyummu, engkau ingin beritahu kami, kalau engkau baik-baik saja, dan memberi support terbaik untuk kami.

Ah…. sekarang aku tidak galau lagi. Biarlah Ibu-ibu aneh yang aku tulis tadi bersikap semaunya, tapi aku sudah tahu mau jadi ibu macam apa aku ini. Aku mau jadi seperti bunda. Merawat anakku dengan baik, mendidiknya untuk menjadi anak yang memiliki sopan-santun, berdoa sebelum melakukan apapun, dan mengajarkannya untuk berkata sopan, mengajarkannya untuk bertanggung jawab untuk segala hal yang sudah di pilihnya. Mengajarkannya untuk menyelesaikan apa yang dimulainya. Mengajarkan untuk tidak emosi dan bisa melihat segala sesuatu dari sudut pandang. Mengajarkannya welas asih dan tidak merepotkan orang lain.

Mengajarkannya cinta dan hormat kepada orang yang lebih tua. Mengajarkan arti keluarga yang saling bantu sama lain. Mengajarkan ajaran rasulullah saw. Mengenalkan qur’an sejak dini. Mengenalkan sejarah dan bahasa. Membuatnya belajar dengan caranya, sehingga anak-anakku kelak bisa menjadikan kami ummi dan abinya menjadi sahabat tapi sekaligus orangtua yang harus dihormati keputusannya.

Ah… Allah…. berikan kami anak-anak soleh dan solehah ya allah, yang bisa mendoakan aku dan suamiku untuk masuk ke surga MU. Amiin ya robbal’alamiin.

Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama robbayani shoghiro ( Ya Allah ampunilah dosaku dan dosa kedua orang tuaku sayangilah mereka sebagaimana mereka, menyayangiku di waktu kecil) amiin.

Jpeg

Love you Bunda (di Museum Bank Mandiri- Jakarta Pusat)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s